Yogyakarta. Kota ini memiliki berbagai destinasi wisata sejarah yang setidaknya, sekali seumur hidup harus pernah kita kunjungi. Terlebih bagi para #sobatbepergian yang menyukai liburan dengan bepergian ke tempat wisata sekaligus mempelajari sejarah terkait tempat wisata tersebut. Maka, Yogyakarta memiliki banyak tempat untuk #sobatbepergian kunjungi.
Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah salah satu destinasi bersejarah yang bisa kalian kunjungi ketika sedang berlibur di Kota Yogyakarta. Karaton ini termasuk ke dalam jajaran destinasi bersejarah yang sering dikunjungi oleh para pelancong. Berlokasi di Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, ia sering terlihat ramai dan padat dengan pengunjung, karena letaknya yang berada di pusat kota.
Saya mengunjungi tempat ini bukan karena keinginan saya pribadi. Hehe. Ada faktor lain yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi tempat ini. Secara, saya tidak terlalu menguasai pengetahuan seputar histori dari kebudayaan Jawa, khususnya Yogyakarta. Namun karena saya juga ingin mempelajari budaya Jawa, tempat ini pun menarik sedikit atensi saya untuk dikunjungi.
Setelah menyelesaikan registrasi dan pembelian tiket, saya langsung menuju tempat pementasan seni tari. Pementasan tersebut dilangsungkan di pendopo luas yang terletak di dalam area keraton. Namun naas, pementasan tari tersebut sudah selesai. Saya yang sudah terlanjur duduk lesehan di pendopo tersebut akhirnya hanya mengamati para pemain musik tradisional yang masih memainkan alat musiknya. Instrumen itu berbunyi sayup perlahan seakan mengisi kosongnya panggung pementasan. Meski tak mendapat kesempatan untuk menyaksikan pementasan tari, saya masih dapat merasakan suasana berbudaya dari suara musik yang masih sayup menemani.
Selepas dari pendopo tersebut, saya berkeliling ke berbagai sudut area dalam keraton ini. Saya menemukan berbagai unsur menarik di sini. Seperti para pemandu atau informan yang ditugaskan berada di berbagai sudut keraton ini, mereka mengenakan busana adat Yogyakarta semacam batik dan kain lurik panjang. Lalu terdapat beberapa marka jalan maupun plang fasilitas keraton yang dihiasi dengan huruf aksara jawa. Dan masih banyak lagi unsur lainnya yang menurut saya pribadi benar-benar bersinergi dalam rangka menciptakan suasana adat dan budaya agar dapat dirasakan semua pengunjung, baik warga lokal maupun para pelancong.
Partikel-partikel remeh tadi menurut saya adalah hal yang penting. Di mana para pengunjung, khususnya para pelancong baik nasional maupun mancanegara, bisa meresapi hingga tenggelam dalam suasana yang sedikit-banyak merepresentasikan adat-istiadat dan budaya Jawa. Ya, meski hanya dalam beberapa menit mereka berada di dalam area keraton ini.
Karena di sini, penjelasan-penjelasan yang dipaparkan adalah penjelasan yang rumit untuk dipahami bagi khalayak umum. Kondisi keramaian yang ada di dalam keraton ini pun tidak memungkinkan saya saat itu untuk bertanya lebih lanjut kepada pemandu dan informan yang terdapat di dalam keraton. Selain itu, pertunjukkan-pertunjukkan yang ada di dalam keraton ini juga seakan diperuntukkan untuk para pengunjung yang sudah mengerti akan budaya Jawa ini. Sehingga kemampuan untuk menikmati pertunjukkan yang ada di sini hanya bisa dimiliki oleh mereka yang related dengan hal-hal tersebut. Bagi para pelancong, kebanyakan hanya mengikuti arahan dari pemandu yang bertugas.
.jpeg)
.jpeg)
.jpeg)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar