Desa Patalagan.
Sebuah daerah yang tidak tersohor di Jawa Barat. Tepatnya, di Kota Kuningan.
Saya mendatangi daerah ini pada tahun lalu (2023) karena kebingungan mencari tempat bermalam ketika perjalanan saya telah tiba di Kota Cirebon. Kebetulan, salah satu teman lama saya di pesantren dulu ada yang saat itu menetap di Kota Kuningan. Maka dengan segala kerendahan hati dan rasa terima kasih yang amat sangat, saya pun menerima tawaran luar biasa tersebut untuk mampir dan bermalam di rumahnya.
Saat itu, waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Saya berangkat menuju Desa Patalagan ini dari Kota Cirebon. Setelah beberapa destinasi yang sudah saya targetkan untuk saya kunjungi, sudah saya datangi. Medan jalan dari Kota Cirebon menuju desa ini menurut saya agak sedikit ekstrim. Mungkin karena saya mengendarai motor jenis matic, sehingga jalan menanjak dan berkelok-kelok menjadi terasa berat buat saya. Ditambah lagi, saya belum pernah melewati akses jalan ini. Semua hal itu mampu membuat saya memutuskan untuk melaju dengan kecepatan standar saja.
Rintangan belum sampai di situ saja. Tiba-tiba, bulir hujan turun perlahan. Saya yang menargetkan untuk sampai di destinasi sebelum magrib pun mempercepat laju motor saya. Maklum, lampu jarak dekat motor saya ini sedikit redup. Sehingga saya lebih was-was ketika melaju di jalan jika matahari sudah sempurna tenggelam.
Benar saja, apa yang saya takutkan terjadi.
Sebenarnya jarak dari posisi saya saat itu ke destinasi termaksud sudah terbilang dekat. Sekitar 5 menit lagi. Namun yang saya tidak tahu, medan jalan menuju rumah teman saya itu ternyata semakin terjal dan menanjak. Saat saya sedang fokus memperhatikan map di HP saya yang sudah terpasang di holder motor, tiba-tiba saya dikagetkan dengan pemotor yang terlihat kehilangan keseimbangan dari arah depan saya. Sontak saya pun membanting arah motor saya ke kiri jalan agar tidak terhindar dari pemotor tersebut. Namun entah bagaimana, pemotor tersebut yang kehilangan keseimbangan dari jalan menurun itu tiba-tiba berhasil menyeimbangkan motornya ketika sudah tiba di jalan yang landai. Kemudian ia menoleh ke arah saya sembari menunjukkan gestur tangan meminta maaf karena hampir menabrak saya.
Dan tepat di sebelah saya ketika tadi membanting motor, terdapat satu rumah kecil yang merangkap sebagai warung kelontong kecil. Pemilik warung tersebut juga menyaksikan kejadian tadi. Ia menyuruh saya untuk berteduh sejenak di rumahnya karena hujan semakin deras dan mulai berpetir.
Langit sudah mulai menggelap. Shalawat tarhim mulai terdengar sayup dari musala-musala kecil di desa ini. Sang pemilik rumah tadi lantas masuk ke dalam rumah lalu kembali menghampiri saya dengan segelas teh manis pahit dan beberapa pisang goreng. Kemudian kami berbincang tentang asal dan tujuan saya hingga bisa sampai di desa ini.
Ia berkata bahwa destinasi tujuan saya sudah dekat sekali. Tinggal melewati satu tanjakan yang ada di depan mata kami, sudah sampailah saya di tujuan. Sembari mengenakan jas hujan dan helm, saya meminta izin kepada pemilik rumah untuk melanjutkan perjalanan. Sebab teman saya sudah menunggu dan berkali-kali menanyakan posisi terkini saya.
Akhirnya tepat ketika azan magrib, saya tiba di tujuan. Masih dalam keadaan setengah kuyup, saya melepas rindu dan berbincang hangat dengan teman saya yang sekian lama tidak bertemu. Kemudian singkat cerita, ia berkata bahwa nanti malam dan esok pagi, ia akan mengajak saya untuk mengunjungi beberapa tempat yang menurutnya harus saya kunjungi. Tentu saja dengan sangat bersemangat, saya meng-iya-kan ajakan tersebut.
Selepas isya, kami berangkat ke salah satu kafe yang terletak lumayan jauh dari rumah. Namun setibanya kami di sana, saya dikejutkan dengan ramainya suasana kafe tersebut. Bagaimana tidak, di sepanjang perjalanan kami dari rumah tadi, saya bisa menghitung jumlah warga lokal yang ada di luar rumah. Hawa dingin dan ditambah genangan sisa hujan deras tadi membuat kebanyakan warga mungkin memilih untuk tidak keluar rumah malam ini.
Tidak ada yang spesial di kafe ini. Beberapa menu pun bagi saya adalah makanan dan minuman yang biasa saya temukan di kafe-kafe daerah lain. Namun yang saya nikmati di sini adalah keramahan para warga lokal yang terlihat ketika mereka menyapa dan menebar senyum ke arah saya. Hal yang mungkin terlihat remeh, namun bagi saya adalah hal yang besar.
Sebelum malam semakin larut, teman saya mengajak saya untuk kembali ke rumah. Ia beralasan, jika besok pagi masih ada destinasi yang harus saya datangi. Akhirnya setelah sekitar satu jam kami berbincang di kafe tersebut, kami berangkat menuju rumah kembali untuk beristirahat.
Pada pagi di keesokan harinya, selepas salat subuh, saya diajak berjalan kaki oleh teman saya dari rumah. Ternyata, destinasi yang akan kami kunjungi terletak tidak jauh dari rumah. Hanya berjarak sekitar beberapa meter saja. Ya, masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dan alangkah terkejutnya saya ketika melihat pemandangan ini:
Sebuah pemandangan yang fantastis terhampar di depan mata saya. Gunung Ciremai terpampang gagah dengan terhias oleh pepohonan yang hijau menjulang tinggi. Beberapa sawah yang masih tertanam padi pun menambah kesan damai pemandangan ini. Ditambah lagi dengan hawa dingin yang memeluk. Sungguh sebuah pemandangan dan kenangan yang luar biasa untuk saya!
Saya hanya mengambil satu foto ini saja. Selebihnya, saya benar-benar terdiam mengagumi suasana dan pemandangan yang ada di depan mata saya. Beberapa kali juga teman saya bercerita dan mendeskripsikan tentang lingkungan tempatnya tinggal ini. Dari sumber daya alam, profesi kebanyakan masyarakat, sampai kelebihan dan kekurangan dari Desa Patalagan ini.
Selain pemandangan menakjubkan ini, Desa Patalagan membuat saya terkesan dengan betapa ramahnya para warga yang saya temui di sini. Entah dari anak kecil, remaja, maupun orang tua. Semuanya seakan terbiasa untuk menjajakan senyuman pada sekitar. Nuansa damai di sini bukan hanya diciptakan oleh lingkungan, tapi juga tercipta dari senyuman.
Setelah kami puas berjalan kaki menapaki sawah untuk menyaksikan pemandangan tadi, kami kembali ke jembatan yang sebelumnya sudah kami lalui. Di sana, kami berbincang sembari membakar rokok dan menikmati segelas kopi. Sambil menyaksikan beberapa warga yang lewat di hadapan kami dengan berbagai keperluan mereka masing-masing.
Pada foto di atas, saya menjumpai beberapa anak kecil yang terlihat lucu dan menggemaskan. Tak hanya itu, para anak kecil di sini menurut saya juga terdidik dengan baik. Itu terbukti dengan cara para anak kecil ini berbicara dan bersikap di depan saya yang notabene sebagai tamu di desa ini. Seperti bagaimana mereka mengucapkan terima kasih, mengenalkan diri, dan menawarkan beberapa hal kecil yang mereka punya. Kesemuanya itu membuat saya semakin yakin bahwa Desa Patalagan ini adalah salah satu miniatur surga yang tersembunyi.
Saya izin untuk memotret mereka dan mengabadikannya dalam bentuk foto. Setelah menunjukkan hasil fotonya pada mereka berdua, mereka tampak senang kemudian berterima kasih. Namun sayang, mereka tidak memiliki Instagram seperti anak kecil kebanyakan di kota-kota besar. Mereka lebih memilih untuk bermain dengan mainan-mainan sederhana yang mereka punya. Mereka lebih senang bermain dengan teman-teman di sekitar rumahnya, bukan dengan layar HP.
Selain anak-anak kecil, sebenarnya beberapa warga juga melintasi jembatan yang kami duduki pagarnya ini. Seperti beberapa remaja yang ingin bekerja di sawah, para bapak-bapak yang mengendarai mobil untuk memanen hasil kebun, hingga para ibu-ibu yang mungkin ingin membawakan bekal untuk suaminya yang sedang bekerja di sawah. Dan sekali lagi, semuanya menebar senyum sembari menyapa kami yang sedang duduk di tepi jembatan.
Pada intinya, Desa Patalagan bagi saya adalah tempat yang luar biasa berkenang. Memorable!
Meski hanya semalam saja, desa ini benar-benar bisa menyihir saya untuk takjub dan kagum dengan suasana yang ada di sini. Dari pemandangan alamnya, dingin hawanya, hingga keramahan penduduknya. Semua itu bak simfoni yang terharmonisasi; indah bersinergi.
Jika ada kesempatan lagi, saya ingin sekali mengunjungi kembali desa ini. Bukan untuk mengukir kenangan, melainkan untuk menjenguk ketenangan.
Teruntuk teman saya sekaligus tuan rumah di desa ini: Khairul Anwar: "Terima kasih banyak!"
Terima kasih telah membaca sampai akhir, #sobatbepergian!
Sampai jumpa di lain tulisan!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar