Kamis, 06 Juni 2024

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: "Kultur Tak Luntur!"

 


            Yogyakarta. Kota ini memiliki berbagai destinasi wisata sejarah yang setidaknya, sekali seumur hidup harus pernah kita kunjungi. Terlebih bagi para #sobatbepergian yang menyukai liburan dengan bepergian ke tempat wisata sekaligus mempelajari sejarah terkait tempat wisata tersebut. Maka, Yogyakarta memiliki banyak tempat untuk #sobatbepergian kunjungi.

           

           Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat adalah salah satu destinasi bersejarah yang bisa kalian kunjungi ketika sedang berlibur di Kota Yogyakarta. Karaton ini termasuk ke dalam jajaran destinasi bersejarah yang sering dikunjungi oleh para pelancong. Berlokasi di Jl. Rotowijayan Blok No. 1, Panembahan, Kecamatan Kraton, Kota Yogyakarta, Daerah Istimewa Yogyakarta, ia sering terlihat ramai dan padat dengan pengunjung, karena letaknya yang berada di pusat kota.

            Saya mengunjungi tempat ini bukan karena keinginan saya pribadi. Hehe. Ada faktor lain yang membuat saya tertarik untuk mengunjungi tempat ini. Secara, saya tidak terlalu menguasai pengetahuan seputar histori dari kebudayaan Jawa, khususnya Yogyakarta. Namun karena saya juga ingin mempelajari budaya Jawa, tempat ini pun menarik sedikit atensi saya untuk dikunjungi.

            


            Setelah menyelesaikan registrasi dan pembelian tiket, saya langsung menuju tempat pementasan seni tari. Pementasan tersebut dilangsungkan di pendopo luas yang terletak di dalam area keraton. Namun naas, pementasan tari tersebut sudah selesai. Saya yang sudah terlanjur duduk lesehan di pendopo tersebut akhirnya hanya mengamati para pemain musik tradisional yang masih memainkan alat musiknya. Instrumen itu berbunyi sayup perlahan seakan mengisi kosongnya panggung pementasan. Meski tak mendapat kesempatan untuk menyaksikan pementasan tari, saya masih dapat merasakan suasana berbudaya dari suara musik yang masih sayup menemani.

            Selepas dari pendopo tersebut, saya berkeliling ke berbagai sudut area dalam keraton ini. Saya menemukan berbagai unsur menarik di sini. Seperti para pemandu atau informan yang ditugaskan berada di berbagai sudut keraton ini, mereka mengenakan busana adat Yogyakarta semacam batik dan kain lurik panjang. Lalu terdapat beberapa marka jalan maupun plang fasilitas keraton yang dihiasi dengan huruf aksara jawa. Dan masih banyak lagi unsur lainnya yang menurut saya pribadi benar-benar bersinergi dalam rangka menciptakan suasana adat dan budaya agar dapat dirasakan semua pengunjung, baik warga lokal maupun para pelancong.

            Partikel-partikel remeh tadi menurut saya adalah hal yang penting. Di mana para pengunjung, khususnya para pelancong baik nasional maupun mancanegara, bisa meresapi hingga tenggelam dalam suasana yang sedikit-banyak merepresentasikan adat-istiadat dan budaya Jawa. Ya, meski hanya dalam beberapa menit mereka berada di dalam area keraton ini.



            Seusai mengabadikan momen saya di berbagai sudut area dalam keraton, saya beranjak masuk mengunjungi semacam museum yang menyajikan pameran-pameran otentik. Pameran-pameran tersebut meliputi cerita sejarah tentang Kota Yogyakarta, peristiwa-peristiwa penting yang terjadi di Yogyakarta, bedah profil dan biografi para pahlawan yang berasal dari Yogyakarta, hingga pemaparan seni dan adat yang berasal dari kota istimewa ini. Bukan dalam bentuk pameran yang monoton, namun di dalam museum ini semua hal tadi disajikan dalam bentuk yang menarik dan mengesankan. Seperti pada jepretan kamera HP saya di atas, kreativitas dan inovasi juga menjadi unsur yang saya temukan di dalam museum ini. Meski unsur adat tradisional historis juga terasa pekat di sini.

            Usai dari museum ini, saya memutuskan untuk lekas keluar dari area keraton ini. Karena jujur, saat itu saya masih memiliki beberapa destinasi yang ingin saya kunjungi.

            Dan terakhir, penilaian saya untuk destinasi ini adalah 8 dari 10. Namun yang perlu diingat, penilaian tersebut muncul dari saya. Ya, seseorang yang tidak terlalu mengerti dengan sejarah kebudayaan Jawa. Jika #sobatbepergian adalah orang yang menggeluti dunia sejarah kebudayaan, maka Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini adalah tempat yang bisa kalian kunjungi.

            Mengapa saya yang notabene pemula dalam mempelajari sejarah kebudayaan, tidak merekomendasikan tempat ini?

           

           Karena di sini, penjelasan-penjelasan yang dipaparkan adalah penjelasan yang rumit untuk dipahami bagi khalayak umum. Kondisi keramaian yang ada di dalam keraton ini pun tidak memungkinkan saya saat itu untuk bertanya lebih lanjut kepada pemandu dan informan yang terdapat di dalam keraton. Selain itu, pertunjukkan-pertunjukkan yang ada di dalam keraton ini juga seakan diperuntukkan untuk para pengunjung yang sudah mengerti akan budaya Jawa ini. Sehingga kemampuan untuk menikmati pertunjukkan yang ada di sini hanya bisa dimiliki oleh mereka yang related dengan hal-hal tersebut. Bagi para pelancong, kebanyakan hanya mengikuti arahan dari pemandu yang bertugas.

            
            Namun begitu, teruntuk #sobatbepergian yang ingin merasakan suasana adat yang kental dan juga merepresentasikan kebudayaan Yogyakarta secara utuh, maka tempat ini juga bisa kalian masukkan daftar destinasi yang akan kalian kunjungi. Bentuk bangunan yang masih otentik namun terrawat, sudut-sudut area keraton yang bernuansa adat Jawa, hingga museum yang sarat akan nilai-nilai sejarah, bisa #sobatbepergian abadikan dengan kamera. Meski di beberapa titik pameran museum, pemotretan dilarang karena kebijakan pengelola.

            Untuk lokasi parkir, menurut saya tidak terlalu kondusif. Beberapa mobil terlihat menumpuk di jalan-jalan sekitar area masuk keraton. Ditambah para pedagang kaki lima yang menghiasi area masuk dan memadatkan trotoar. Hal tersebut membuat para pejalan kaki kesulitan untuk menuju gerbang masuk keraton. Cuaca panas yang saya rasakan kala itu semakin menambah kekalutan pikiran saya hingga memutuskan untuk segera meninggalkan destinasi ini.

            Semoga ke depannya, Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ini semakin diperhatikan oleh pengelola setempat bahkan hingga ke pemerintah. Terkait retribusi, fasilitas, dan biaya-biaya lainnya juga semakin dibenahi agar kenyamanan dan keamanan di dalam area keraton senantiasa terjaga.

            Terima kasih sudah membaca sampai akhir, #sobatbepergian !
            Sampai baca di lain tulisan!

Lokasi Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat ada di sini.


Senin, 03 Juni 2024

Warung Geblek Pari: "Menu Pemandangan!"

 


            Warung Geblek Pari.

Tempat makan yang bisa #sobatbepergian kunjungi kalau sedang mampir atau singgah di Yogyakarta. Terletak di daerah Pronosutan, Kembang, Kec. Nanggulan, Kabupaten Kulon Progo, Warung Geblek Pari benar-benar menjadi destinasi kuliner yang menurut saya pribadi recommended untuk #sobatbepergian kunjungi.

           

           Akses menuju tempat ini sudah terbilang baik. Tidak ada jalan terjal atau curam. Meskipun posisinya ada di area perkampungan, #sobatbepergian tetap bisa mengunjungi Warung Geblek Pari meskipun menaiki mobil. Karena lebar jalan menuju lokasi terbilang cukup untuk dilewati dua mobil dari arah yang berlawanan.

           Jujur, saya mengunjungi tempat ini setelah saya melakukan pencarian di internet dengan kata kunci "Sarapan Enak dan Murah di Yogyakarta". Setelah menelaah berbagai destinasi, saya menjadikan Warung Geblek Pari sebagai tujuan, karena jaraknya yang saat itu tidak jauh dari area yang akan saya kunjungi setelah sarapan.


            Saat saya tiba di lokasi, saya melihat luasnya lapangan parkir yang disediakan oleh pihak warung. Meski belum beraspal, namun kontur tanah parkir terbilang baik dan tidak berdebu. Parkiran sederhana itu juga dijaga oleh beberapa petugas. Tanpa diberi kupon atau karcis parkir, saya dipersilakan untuk masuk ke dalam warung oleh salah satu petugas parkir kala itu.

            Ketika saya sudah masuk dan berada di area terdepan tempat ini, mata saya dimanjakan dengan pernak-pernik dekorasi tradisional Yogyakarta. Beberapa kendaraan antik dan perabotan-perabotan lawas terpampang di beberapa sudut lokasi. Ditambah dengan konsep Warung Geblek Pari yang sederhana ala rumah biasa yang digunakan sebagai warung makan, semakin menambah kesan damai dan sejuk bagi para pengunjung. Terutama bagi para #sobatbepergian dari kota besar yang identik dengan kesibukan dan kesemrawutan. Saya jamin, tempat ini akan menenangkan kalian sejenak.

           

           Yang menarik lagi bagi saya ketika sudah sampai di kasir untuk mengambil daftar menu, saya melihat betapa luasnya area makan yang ada di dalam lokasi ini. Berbagai konsep meja makan terhampar di berbagai sudut lokasi sesuai preferensi pengunjung. Ada yang berhadap-hadapan, melingkar, satu meja panjang dan satu kursi panjang untuk duduk bersebelahan saja, dan masih banyak lagi yang lainnya. Juga di sini, kita bisa memilih area yang kita inginkan untuk menikmati pesanan kita. Bisa di selasar beratap, di area terbuka, atau bisa juga mencari view terbaik untuk menemani kita menghabiskan sarapan yang sudah dipesan.



            Kebetulan ketika saya sampai di sini, warung masih belum terlalu ramai pengunjung. Sehingga saya bisa duduk di tempat yang langsung menghadap ke arah hamparan hijau. Di bawah pohon yang rindang, saya mulai memesan beberapa menu yang akan saya santap.

            Untuk harga makanan dan minuman di sini seperti harga pada umumnya di Yogyakarta. Memanjakan dompet dan menenangkan tabungan. Hehe. Saya pun memesan berbagai santap sarapan seperti aneka gorengan dan kopi hitam. Untuk rasa, menurut lidah saya pribadi tidak ada yang spesial. Enak; namun tidak melekat rasanya hingga sekarang. Hehe.

            Yang membuat kesemuanya itu spesial adalah pemandangan yang tersaji di depan saya. Hijaunya area persawahan yang luas, jalan setapak yang membelah masing-masing petakan sawah, hingga beberapa burung kecil yang beterbangan di atasnya, menambah nuansa damai saat menikmati sarapan di kota istimewa ini.

            Dan di jalanan kecil yang tepat berada di depan meja makan saya, adalah lintasan para pengunjung yang menyewa scooter lucu untuk mereka kendarai di sekitar area Warung Geblek Pari. Penyewaan scooter ini amat berguna untuk anak-anak yang mungkin kesulitan untuk makan sehingga membutuhkan treatment yang menarik, bisa juga sebagai alternatif untuk mengisi jeda ketika sedang menunggu menu yang kita pesan, dan juga bisa benar-benar dimanfaatkan untuk mengabadikan momen ketika sedang berkunjung ke Warung Geblek Pari ini.


            Saya pribadi tidak menyewa scooter di sini. Bukan karena harganya terlalu mahal atau kualitasnya yang buruk. Namun karena memang sebelumnya sudah saya targetkan, bahwa saya akan menyewa scooter di Kaliurang saja. Maka daripada itu, saya belum mengetahui berapa harga sewa scooter yang disediakan oleh Warung Geblek Pari ini.

            Sebenarnya, Warung Geblek Pari ini juga memiliki penyediaan layanan lainnya. Seperti penginapan, kolam renang, bahkan VW tour hingga Jeep tour. Namun karena memang saya mengunjungi tempat ini hanya untuk sarapan, maka saya tidak mencari tahu tentang itu semua.

            Oh, iya. Tempat ini juga berani saya rekomendasikan kepada #sobatbepergian baik yang lajang, berpasangan, maupun membawa keluarga. Karena di Warung Geblek Pari ini benar-benar cocok untuk semua kalangan dengan kapasitas kecil maupun besar. Keindahan suasana alam di sekitarnya, fasilitas yang tersedia, menu makanan yang variatif, hingga pelayanan yang responsif, membuat tempat ini saya rekomendasikan kepada kalian semua.

            Terakhir, tempat ini juga sudah didatangi berbagai artis maupun selebritis nasional. Seperti Aurelie, Aura Kasih, Prillly Latuconsina, hingga geng motor bapak-bapak; The Prediksi. Itu menandakan bahwa Warung Geblek Pari memang tempat santap sarapan yang strategis dan menarik untuk didatangi.

            Jika saya ditanya tentang menu sarapan apa yang paling berkesan di sini, maka dengan yakinnya saya akan menjawab: "Segelas kopi dan sepiring pemandangan!"

            Terima kasih sudah membaca sampai akhir, #sobatbepergian!
            Sampai baca lagi di lain tulisan!

Lokasi Warung Geblek Pari ada di sini.

Minggu, 02 Juni 2024

Desa Patalagan: "Mengukir Kenangan di Kuningan"



            Desa Patalagan.

            Sebuah daerah yang tidak tersohor di Jawa Barat. Tepatnya, di Kota Kuningan.

            Saya mendatangi daerah ini pada tahun lalu (2023) karena kebingungan mencari tempat bermalam ketika perjalanan saya telah tiba di Kota Cirebon. Kebetulan, salah satu teman lama saya di pesantren dulu ada yang saat itu menetap di Kota Kuningan. Maka dengan segala kerendahan hati dan rasa terima kasih yang amat sangat, saya pun menerima tawaran luar biasa tersebut untuk mampir dan bermalam di rumahnya.

            Saat itu, waktu menunjukkan pukul 16.00 WIB. Saya berangkat menuju Desa Patalagan ini dari Kota Cirebon. Setelah beberapa destinasi yang sudah saya targetkan untuk saya kunjungi, sudah saya datangi. Medan jalan dari Kota Cirebon menuju desa ini menurut saya agak sedikit ekstrim. Mungkin karena saya mengendarai motor jenis matic, sehingga jalan menanjak dan berkelok-kelok menjadi terasa berat buat saya. Ditambah lagi, saya belum pernah melewati akses jalan ini. Semua hal itu mampu membuat saya memutuskan untuk melaju dengan kecepatan standar saja.

             Rintangan belum sampai di situ saja. Tiba-tiba, bulir hujan turun perlahan. Saya yang menargetkan untuk sampai di destinasi sebelum magrib pun mempercepat laju motor saya. Maklum, lampu jarak dekat motor saya ini sedikit redup. Sehingga saya lebih was-was ketika melaju di jalan jika matahari sudah sempurna tenggelam.

            Benar saja, apa yang saya takutkan terjadi.

           

           Sebenarnya jarak dari posisi saya saat itu ke destinasi termaksud sudah terbilang dekat. Sekitar 5 menit lagi. Namun yang saya tidak tahu, medan jalan menuju rumah teman saya itu ternyata semakin terjal dan menanjak. Saat saya sedang fokus memperhatikan map di HP saya yang sudah terpasang di holder motor, tiba-tiba saya dikagetkan dengan pemotor yang terlihat kehilangan keseimbangan dari arah depan saya. Sontak saya pun membanting arah motor saya ke kiri jalan agar tidak terhindar dari pemotor tersebut. Namun entah bagaimana, pemotor tersebut yang kehilangan keseimbangan dari jalan menurun itu tiba-tiba berhasil menyeimbangkan motornya ketika sudah tiba di jalan yang landai. Kemudian ia menoleh ke arah saya sembari menunjukkan gestur tangan meminta maaf karena hampir menabrak saya. 

Dan tepat di sebelah saya ketika tadi membanting motor, terdapat satu rumah kecil yang merangkap sebagai warung kelontong kecil. Pemilik warung tersebut juga menyaksikan kejadian tadi. Ia menyuruh saya untuk berteduh sejenak di rumahnya karena hujan semakin deras dan mulai berpetir.

            Langit sudah mulai menggelap. Shalawat tarhim mulai terdengar sayup dari musala-musala kecil di desa ini. Sang pemilik rumah tadi lantas masuk ke dalam rumah lalu kembali menghampiri saya dengan segelas teh manis pahit dan beberapa pisang goreng. Kemudian kami berbincang tentang asal dan tujuan saya hingga bisa sampai di desa ini.

            Ia berkata bahwa destinasi tujuan saya sudah dekat sekali. Tinggal melewati satu tanjakan yang ada di depan mata kami, sudah sampailah saya di tujuan. Sembari mengenakan jas hujan dan helm, saya meminta izin kepada pemilik rumah untuk melanjutkan perjalanan. Sebab teman saya sudah menunggu dan berkali-kali menanyakan posisi terkini saya.

            Akhirnya tepat ketika azan magrib, saya tiba di tujuan. Masih dalam keadaan setengah kuyup, saya melepas rindu dan berbincang hangat dengan teman saya yang sekian lama tidak bertemu. Kemudian singkat cerita, ia berkata bahwa nanti malam dan esok pagi, ia akan mengajak saya untuk mengunjungi beberapa tempat yang menurutnya harus saya kunjungi. Tentu saja dengan sangat bersemangat, saya meng-iya-kan ajakan tersebut.

            Selepas isya, kami berangkat ke salah satu kafe yang terletak lumayan jauh dari rumah. Namun setibanya kami di sana, saya dikejutkan dengan ramainya suasana kafe tersebut. Bagaimana tidak, di sepanjang perjalanan kami dari rumah tadi, saya bisa menghitung jumlah warga lokal yang ada di luar rumah. Hawa dingin dan ditambah genangan sisa hujan deras tadi membuat kebanyakan warga mungkin memilih untuk tidak keluar rumah malam ini.

            Tidak ada yang spesial di kafe ini. Beberapa menu pun bagi saya adalah makanan dan minuman yang biasa saya temukan di kafe-kafe daerah lain. Namun yang saya nikmati di sini adalah keramahan para warga lokal yang terlihat ketika mereka menyapa dan menebar senyum ke arah saya. Hal yang mungkin terlihat remeh, namun bagi saya adalah hal yang besar.

            Sebelum malam semakin larut, teman saya mengajak saya untuk kembali ke rumah. Ia beralasan, jika besok pagi masih ada destinasi yang harus saya datangi. Akhirnya setelah sekitar satu jam kami berbincang di kafe tersebut, kami berangkat menuju rumah kembali untuk beristirahat.

            Pada pagi di keesokan harinya, selepas salat subuh, saya diajak berjalan kaki oleh teman saya dari rumah. Ternyata, destinasi yang akan kami kunjungi terletak tidak jauh dari rumah. Hanya berjarak sekitar beberapa meter saja. Ya, masih bisa ditempuh dengan berjalan kaki. Dan alangkah terkejutnya saya ketika melihat pemandangan ini:


            Sebuah pemandangan yang fantastis terhampar di depan mata saya. Gunung Ciremai terpampang gagah dengan terhias oleh pepohonan yang hijau menjulang tinggi. Beberapa sawah yang masih tertanam padi pun menambah kesan damai pemandangan ini. Ditambah lagi dengan hawa dingin yang memeluk. Sungguh sebuah pemandangan dan kenangan yang luar biasa untuk saya!

            Saya hanya mengambil satu foto ini saja. Selebihnya, saya benar-benar terdiam mengagumi suasana dan pemandangan yang ada di depan mata saya. Beberapa kali juga teman saya bercerita dan mendeskripsikan tentang lingkungan tempatnya tinggal ini. Dari sumber daya alam, profesi kebanyakan masyarakat, sampai kelebihan dan kekurangan dari Desa Patalagan ini.

            Selain pemandangan menakjubkan ini, Desa Patalagan membuat saya terkesan dengan betapa ramahnya para warga yang saya temui di sini. Entah dari anak kecil, remaja, maupun orang tua. Semuanya seakan terbiasa untuk menjajakan senyuman pada sekitar. Nuansa damai di sini bukan hanya diciptakan oleh lingkungan, tapi juga tercipta dari senyuman.


            Setelah kami puas berjalan kaki menapaki sawah untuk menyaksikan pemandangan tadi, kami kembali ke jembatan yang sebelumnya sudah kami lalui. Di sana, kami berbincang sembari membakar rokok dan menikmati segelas kopi. Sambil menyaksikan beberapa warga yang lewat di hadapan kami dengan berbagai keperluan mereka masing-masing.

            Pada foto di atas, saya menjumpai beberapa anak kecil yang terlihat lucu dan menggemaskan. Tak hanya itu, para anak kecil di sini menurut saya juga terdidik dengan baik. Itu terbukti dengan cara para anak kecil ini berbicara dan bersikap di depan saya yang notabene sebagai tamu di desa ini. Seperti bagaimana mereka mengucapkan terima kasih, mengenalkan diri, dan menawarkan beberapa hal kecil yang mereka punya. Kesemuanya itu membuat saya semakin yakin bahwa Desa Patalagan ini adalah salah satu miniatur surga yang tersembunyi.


            Saya izin untuk memotret mereka dan mengabadikannya dalam bentuk foto. Setelah menunjukkan hasil fotonya pada mereka berdua, mereka tampak senang kemudian berterima kasih. Namun sayang, mereka tidak memiliki Instagram seperti anak kecil kebanyakan di kota-kota besar. Mereka lebih memilih untuk bermain dengan mainan-mainan sederhana yang mereka punya. Mereka lebih senang bermain dengan teman-teman di sekitar rumahnya, bukan dengan layar HP.

            Selain anak-anak kecil, sebenarnya beberapa warga juga melintasi jembatan yang kami duduki pagarnya ini. Seperti beberapa remaja yang ingin bekerja di sawah, para bapak-bapak yang mengendarai mobil untuk memanen hasil kebun, hingga para ibu-ibu yang mungkin ingin membawakan bekal untuk suaminya yang sedang bekerja di sawah. Dan sekali lagi, semuanya menebar senyum sembari menyapa kami yang sedang duduk di tepi jembatan.

            Pada intinya, Desa Patalagan bagi saya adalah tempat yang luar biasa berkenang. Memorable!
Meski hanya semalam saja, desa ini benar-benar bisa menyihir saya untuk takjub dan kagum dengan suasana yang ada di sini. Dari pemandangan alamnya, dingin hawanya, hingga keramahan penduduknya. Semua itu bak simfoni yang terharmonisasi; indah bersinergi.

            Jika ada kesempatan lagi, saya ingin sekali mengunjungi kembali desa ini. Bukan untuk mengukir kenangan, melainkan untuk menjenguk ketenangan.

            Teruntuk teman saya sekaligus tuan rumah di desa ini: Khairul Anwar: "Terima kasih banyak!"

            Terima kasih telah membaca sampai akhir, #sobatbepergian!
            Sampai jumpa di lain tulisan!

Senin, 27 Mei 2024

Sendang Maren 2: "Mata Air Sejuta Bunga!"

 


        Sendang Maren 2 adalah tempat yang selalu saya jadikan sebagai destinasi ketika sedang berkunjung ke Kota Magelang. Mata air yang luar biasa menyegarkan ini berlokasi di Dusun Semaren, Desa Sawangan, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah.
        
        Sumber mata air ini diwadahi oleh kolam berukuran sedang dengan volume air yang tidak terlalu banyak. Dasar kolamnya dipenuhi dengan bebatuan sebagai pijakan. Di sekeliling kolam tersebut terdapat bilik sederhana untuk tempat ganti atau salin pakaian, juga beberapa kursi tunggu yang terbuat dari bambu hasil kerja tangan. Pepohonan hijau dan rindang terhampar mengitari kolam persegi yang menampung kesegaran mata air Sendang ini. 

       

           Sedikit bercerita, ketika saya masih berdomisili di Desa Sawangan, teman-teman saya seringkali menjadikan Sendang Maren 2 sebagai tempat melepas lelah dan menghibur diri. Kesegaran airnya, kesejukan udaranya, dan kedamaian suasananya menjadi daya magis Sendang Maren 2 untuk memanggil kembali para tamu dan pelancong yang sempat mengunjunginya.


        Begitupun saya. Meskipun saya tidak bisa berenang, entah mengapa, mendengarkan suara gemercik air, suara gesekan dedaunan yang tertiup angin, kicauan burung-burung kecil, adalah simfoni kedamaian tempat ini yang selalu bisa menenangkan jiwa. Ditambah lagi ketika terakhir kali saya berkunjung ke sini (30/12/23), sudah terdapat beberapa warung kecil nan sederhana yang menjual aneka hidangan. Dari minuman panas, gorengan, hingga mi instan. Yang kesemuanya jelas menjadi alternatif bagi para pengunjung yang ingin mengisi perut setelah atau sebelum berenang.

        

            
            Sebelum berenang, saya dan teman-teman biasanya membeli beberapa kopi susu panas dan gorengan untuk mengisi perut sebelum berjibaku dengan dinginnya air Sendang. Bercengkerama sembari mempersiapkan baju yang akan dipakai untuk nyebur dan merapikan perlengkapan di tempat yang aman.

            Bukan hanya itu, alasan kami memesan camilan ini juga biasanya karena sembari menunggu para pengunjung yang masih berenang dan memenuhi isi kolam. Maklum, nama Sendang Maren 2 ini sudah mulai dikenal khalayak ramai. Jadi di momen liburan, kondisi pengunjung biasanya lebih banyak dari biasanya.




            Seusai (teman-teman saya) berenang, wajib hukumnya bagi kami untuk menyantap hidangan favorit setelah berenang. Apa lagi kalau bukan mi instan? Dalam kondisi kedinginan usai berenang, indomie rebus dan telur memang makanan yang paling cocok untuk menghangatkan.




            Area parkir di sini juga terbilang cukup luas. Kebersihan dan keindahan di sekitar Sendang Maren 2 juga selalu dirawat dan diperhatikan. Saya dan teman-teman yang selalu berkunjung ke sini dengan mengendarai sepeda motor merasa dimanjakan dengan kondisi area parkir yang semakin diperbaiki dan dikembangkan. Hanya dengan 2000 rupiah, kita bisa menikmati keindahan Sendang Maren 2 ini tanpa perlu khawatir kondisi motor kita di luar area kolam renang.

            Untuk akses menuju Sendang 2 ini menurut saya juga sudah terhitung baik. Meski belum diaspal, namun kontur tanah tidak ekstrim untuk dilalui kendaraan roda dua maupun roda empat. Lalu, apakah mobil bisa masuk ke area parkir Sendang 2? Jawabannya, bisa!
    
            Terakhir kali saya berkunjung ke sini, saya dikagetkan dengan perluasan jalan yang memungkinkan kendaraan roda empat untuk turun ke bawah, hingga bisa parkir tepat di sebelah kolam renang. Sungguh sebuah kesadaran yang luar biasa dari warga lokal untuk mengembangkan destinasi wisata alam ini.

            Intinya, saran dari saya, siapapun dari kalian yang berkunjung ke Kota Magelang, jangan lupa pijakkan kakimu di tempat ini! Lokasinya memang terbilang jauh dari area perkotaan, namun keindahan, kesejukan, dan kedamaian yang akan kalian temukan di tempat ini akan membayar jauhnya jarak yang telah kalian tempuh. Percaya, deh!

            Oh, iya. Apakah kalian tahu mengapa tempat ini dinamakan dengan Sendang Maren 2?
            
            Apakah dengan nama tersebut berarti menandakan adanya Sendang Maren 1?
         
            Apakah jika ada Sendang Maren 1, kondisinya lebih indah dan menarik dari Sendang Maren 2?

            Kita bahas terkait itu semua di blog selanjutnya ya, sobat bepergian!

            Sampai baca lagi di lain tulisan!

Lokasi Sendang Maren 2 ada di sini.

Karaton Ngayogyakarta Hadiningrat: "Kultur Tak Luntur!"

              Yogyakarta. Kota ini memiliki berbagai destinasi wisata sejarah yang setidaknya, sekali seumur hidup harus pernah kita kunjun...